Kembang api


Jumat, 01 Maret 2019

PASAR BARO BELITUNG





Pasar Baro yang terletak di Kelurahan Pangkal Lalang masih menjadi pasar tradisional favorit bagi masyarakat Belitung. Setiap harinya, apalagi pada bulan puasa pasar ini tak pernah sepi dan selalu diserbu pembeli untuk berbelanja berbagai macam kebutuhan. Mulai dari seperti ikan segar, kepiting, sayur-sayuran, bumbu dapur hingga kebutuhan pokok lainnya.

Selain itu kata dia, belanja kebutuhan sehari-hari di waktu sore juga bisa dimanfaatkan sembari menunggu waktu berbuka puasa. Selain bisa mencari sejumlah kebutuhan pokok, ketika bulan puasa di Pasar Baro juga mudah ditemukan kue lebaran dan takjil.

Mohon dukungan Subscribe dan Likenya

Catatan
please subscribe and like
repayment back
thank you
Terimakasih

Salam persahabatan dari Kami ..

Rabu, 27 Februari 2019

BENDUNGAN PICE BELITUNG TIMUR





Bendungan Pice merupakan bangunan peninggalan bersejarah yang terletak di Hulu Sungai Lenggang, Gantung. Sungai

Lenggang sendiri merupakan sungai terluas yang ada di Belitung.

Dibangun pada selang tahun 1934 – 1936 memiliki panjang tidak kurang dari 50 meter, memiliki 16 pintu dengan 2,5



meter untuk masing-masing pintunya. Dari sinilah keluar “air terjun” dengan ketinggian sekitar 10 meter. Pada masa



penambangan timah masih diusahan oleh perusahaan milik Belnada NV GMB, fungsi utama bendungan ini sebagai pengatur



tinggi rendahnya permukaan air guna mempermudah sistem kerja kapal keruk melakukan eksplorasi timah!



Kini, bersebelah dengan Bendungan Pice yang lama yang berusia diatas 80 tahun ini telah berdiri satu lagi



bendungan, bernama Bendungan Pice Besar. Adapun proyek pembangunan Bendung atau Bendungan Pice Besar ini

dilaksanakan mulai tahun 2014 pemerintah .

Lebar Bendung Pice Baru diperkirakan sekitar 79 m yang didesain sesuai dengan lebar rata-rata Sungai Lenggang.

Senin, 25 Februari 2019

BUANG JONG BELITUNG







Suku Sawang yang merupakan masyarakat tradisional di Pulau
Belitong dikenal memiliki tradisi yang unik bernama Buang Jong. Karena dulu
Suku Sawang ini selalu hidup di lautan maka tradisi Buang Jong juga berhubungan
dengan laut.
Tahapan berikutnya dari Buang Jong adalah jual-beli jong.
Tahap yang satu ini Suku Sawang akan melakukan kegiatan transaksi jual-beli
dengan orang darat. Menariknya, aktivitas jual-beli ini dilakukan tidak
menggunakan uang tapi dengan metode barter atau pertukaran barang. Prosesi
jual-beli jong ini sendiri memiliki arti dan makna yang berarti bagi Suku
Sawang dan orang darat yakni persahabatan dan kerukunan. Pada acara ini juga
ada kesepakatan antara Suku Sawang dan orang darat untuk saling mendukung dan
saling mengajukan permintaan. Kesepatakan yang ditengahi oleh dukun ini berisi
permintaan Suku Sawang agar tidak dimusuhi saat berada di darat dan orang darat
yang meminta agar orang laut mendapat banyak rejeki untuk bisa memenuhi
kebutuhan pangannya.
Dalam istilah setempat Buang Jong memiliki arti melepaskan
atau membuang perahu kecil (Jong) ke lautan. Di dalam jong ini sendiri ada
beberapa sesajian (sesajen) dan juga ancak (semacam replika kerangka rumah yang
melambangkan tempat tinggal). Tradisi Buang Jong yang dilakukan oleh Suku Ketika
angin musim Barat ini berhembus, Suku Sawang merasa bahwa sudah tiba saatnya
untuk melakukan larung laut yang dikenal dengan Buang Jong ini sebagai bentuk
persembahan kepada penguasa laut.