Kembang api


Minggu, 16 Juni 2019

KI’ CUAN MELAWAN LIMPAI (Cerita Rakyat Belitong)





PADA zaman dahulu kala, tak berapa jauh dari Kampung Simpang Tiga, termasuk wilayah Kecamatan Gantung, hiduplah seorang petani bersama istri dan seorang anak gadisnya. Oleh penduduk setempat ia dipanggil Ki’ Cuan. Sebagai seorang petani, Ki’ Cuan senantiasa berada di sekitar lingkungan ladangnya, yang umumnya berada di tengah hutan. Karena itu ia menjadi sangat akrab dengan kehidupan hutan dan segala macam isinya.

Satu-satunya anak perempuan Ki’ Cuan bernama Jerimai. Sebagai seorang perempuan, tentunya, ia harus berkeluarga. Dan, ketika tiba saatnya, Jerimai pun dinikahkan Ki’ Cuan dengan seorang pemuda dari kampung setempat. Pernikahan ini diramaikan dengan acara-acara, seperti kendurian bagi orang sekampungnya.

Beberapa waktu setelah perhelatan pernikahan Jerimai, kampung dimana Ki’ Cuan tinggal sering ada kejadian hilangnya seorang anak yang bermain di pinggir hutan, pemandian (bahasa setempat disebut ai’ arongan, red.), bahkan di ladang. Selain di tempat-tempat tersebut, kerap pula ada kejadian terbongkarnya kuburan orang yang baru saja meninggal. Baru saja jenazah orang meninggal dimakamkan, keesokan harinya kuburan tersebut terbongkar secara tidak teratur, seperti diseruduk semacam moncong binatang. Yang tersisa dari jenasah yang terbongkar itu, biasanya, hanyalah jari kuku dan kain kafan.

Kejadian-kejadian ini menimbulkan suasana tidak tenang di kampung Ki’ Cuan. Siang malam penduduk kampung selalu berjaga-jaga. Penduduk laki-laki, selain berjaga di ladang pada siang hari, berjaga-jaga di kampung pada malam hari. Sementara kaum perempuan, selain menyiapkan makanan bagi keluarga, tak boleh lengah mengawasi anak-anak mereka ketika bermain di pinggir hutan atau di tengah ladang.

Dalam kondisi demikian, suatu hari, keluarga Ki’ Cuan mendapat undangan kendurian pernikahan warga kampung yang tinggal di wilayah Simpang Tiga, sekarang. Rencananya, Ki’ Cuan akan pergi ke undangan tersebut karena pengundang -yang juga temannnya- dulu banyak membantunya saat pernikahan Jerimai. Lagi pula, ia tak mau menyinggung perasaan keluarga yang sudah susah-susah mengundangnya.

Cuma rawannya kondisi kampung saat itu, selalu menjadi pemikirannya untuk memenuhi undangan temannya. Sebab ia sangat tahu perjalanan menuju kampung Simpang Tiga yang akan ditempuhnya penuh risiko. Apalagi ia harus membawa seluruh anggota keluarganya, termasuk Jerimai yang masih pengantin baru.

Mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan keluarga Ki’ Cuan akan berangkat berombongan, bersama-sama orang kampung. Sementara, karena masih ada urusan yang harus diselesaikan sebelum berangkat, Ki’ Cuan menyusul kemudian.

Rupanya, Jerimai, yang harusnya berangkat bersama dengan rombongan orang kampung, terlambat. Akibatnya ia harus berjalan sendirian, terpisah agak jauh dari rombongan di depannya. Tetapi di tengah perjalanan, tak ada yang tahu apa yang menimpa Jerimai,...Untuk lebih Jelas bagaimana Kisahnya,,,simak saja VideonyA...

Narasumber:
Mirpan, pria kelahiran Simpang Tiga, yang saat diwawancarai (1986) sudah berusia 50 tahun. Ia mendapat cerita ini dari ayahnya –Alm Deramin di tahun 1950an.