Kembang api


Minggu, 15 April 2012

KISAH LEGENDA "SI PENYUMPIT"


Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah di Pulau Bangka, hiduplah seorang pemuda yang sangat mahir menyumpit binatang buruan. Sumpitannya selalu mengenai sasaran. Oleh karenanya, masyarakat memanggilnya si Penyumpit. Selain mahir menyumpit, ia juga pandai mengobati berbagai macam penyakit. Bakat menyumpit dan mengobati tersebut ia peroleh dari ayahnya.

Pada suatu hari, Pak Raje, Kepala Desa di kampung itu, meminta si Penyumpit untuk mengusir kawanan babi hutan yang telah merusak tanaman padinya yang sedang berbuah, dengan dalih bahwa orang tua si Penyumpit sewaktu masih hidup pernah berhutang kepadanya. Demi membayar hutang orang tuanya, si Penyumpit rela bekerja pada Pak Raje.

Keesokan harinya, berangkatlah si Penyumpit ke ladang Pak Raje untuk melaksanakan tugas. Sesampainya di ladang, ia membakar kemenyan untuk memohon kepada dewa-dewa dan mentemau (dewa babi), agar kawanan babi tersebut tidak merusak tanaman padi Pak Raje. Si Penyumpit kemudian melakukan ronda dengan memantau seluruh sudut ladang hingga larut malam. Sudah tiga malam si Penyumpit meronda, namun belum terlihat tanda-tanda yang mencurigakan. Meskipun situasi aman, si Penyumpit terus berjaga-jaga. 

Ketika memasuki malam ketujuh, dari kejauhan tampak oleh si Penyumpit tujuh kawanan babi hutan sedang beriring-iringan hendak memasuki ladang. Satu per satu babi hutan itu melompati pagar batu yang telah dibuat Pak Raje. Mengetahui hal itu, si Penyumpit segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar dengan sumpit di tangan yang siap untuk digunakan. Ketika kawanan babi tersebut mulai mengobrak-abrik tanaman padi yang tak jauh dari pohon tempat ia bersembunyi, dengan hati-hati pemuda itu mengangkat sumpitnya, lalu disumpitkannya ke arah babi yang paling dekat dengannya. Sumpitannya tepat mengenahi sisi sebelah kiri perut babi itu. Sesaat kemudian, kawanan babi itu tiba-tiba menghilang bersama dengan anak sumpitnya. Melihat peristiwa aneh itu, si Penyumpit menjadi penasaran.

Keesokan harinya, si Penyumpit menyusuri ceceran darah hingga ke tengah hutan.   Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah gua yang di sekelilingnya ditumbuhi semak-belukar. Dengan hati-hati, pemuda itu memasuki gua tersebut. Sesampainya di dalam, ia sangat terkejut, karena melihat seorang putri yang tergeletak di atas pembaringan yang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Salah seorang dari wanita tersebut adalah ibu sang Putri.

“Hai, anak muda! Engkau siapa?” tanya ibu sang putri.
“Saya si Penyumpit,” jawab si pemuda dengan ramah.
“Ada perlu apa Engkau ke sini?” tanya ibu sang putri dengan nada menyelidik.
“Saya sedang mencari anak sumpit saya yang hilang bersama dengan seekor babi hutan,”  
  jawabnya.
“Benda yang engkau cari itu ada pada putriku,” kata ibu sang putri.
“Bagaimana bisa anak sumpit saya ada pada putri Bibi?” tanya si Penyumpit heran.
“Ketahuilah, anak muda! Babi yang engkau sumpit itu adalah penjelmaan putriku,’ jelas ibu sang 
  putri.

   Si Penyumpit sangat kaget mendengar penjelasan ibu sang putri.
“Jadi…, kalian adalah babi jadi-jadian?” tanya si Penyumpit dengan heran.
“Benar, anak muda,” jawab ibu sang putri.
“Kalau begitu, saya minta maaf, karena tidak mengetahui hal itu,” kata si Penyumpit dengan rasa 
  menyesal.

“Sudahlah, anak muda. Lupakan saja semua kejadian itu. Yang penting sekarang adalah bagaimana melepaskan benda ini dari perut putriku,” kata ibu sang putri.

“Baiklah. Saya akan melepaskan anak sumpit itu dan mengobati luka putri bibi. Tolong saya 
  dicarikan beberapa helai daun keremunting[1] dan tumbuklah hingga halus,” pinta si Penyumpit.

Untuk memenuhi permintaan itu, ibu sang putri segera memerintahkan beberapa dayangnya untuk mencari daun keremunting yang banyak terdapat di sekitar mereka. Tak berapa lama, dayang-dayang tersebut sudah kembali dengan membawa daun yang dimaksud. Setelah yang diperlukan disiapkan, si Penyumpit mendekati gadis cantik yang sedang terbaring lemas itu, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya.

Tampaklah sebuah benda runcing yang menancap di perut sang putri, yang tidak lain adalah mata sumpit miliknya. Sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra, si Penyumpit mencabut mata sumpit itu dengan pelan-pelan. Setelah mata sumpit terlepas, bekas luka tersebut kemudian ditutupinya dengan daun keremunting yang sudah dihaluskan untuk menahan cucuran darah yang keluar.

Beberapa saat kemudian, luka sang putri sembuh dan tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun.
“Sekarang putri Bibi sudah sembuh. Izinkanlah saya mohon diri,” pamit pemuda itu dengan sopan.
“Baiklah, anak muda! Ini ada oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih kami, karena engkau telah menyembuhkan putriku. Bungkusan ini berisi kunyit, buah nyatoh,[2] daun simpur,[3] dan buah jering.[4] Tapi, bungkusan ini jangan dibuka sebelum engkau sampai di rumah,” pesan ibu sang putri.

“Baik, Bi!” jawab pemuda itu, lalu pergi meninggalkan gua.
Setibanya di rumah, si Penyumpit segera membuka bungkusan tersebut. Alangkah terkejutnya ia, karena isi bungkusan itu tidak seperti yang disebutkan ibu sang putri. Bungkusan itu ternyata berisi perhiasan berupa emas, berlian, dan intan permata.

“Waw…, berharga sekali benda ini!” tanya si Penyumpit dengan rasa kagum.
“Dengan benda ini, aku akan menjadi kaya-raya,” gumamnya dengan perasaan gembira.
Keesokan harinya, si Penyumpit pergi menjual seluruh benda berharga itu kepada seorang saudagar kaya di kampung itu. Hasil penjualannya ia gunakan untuk membeli ladang yang luas, rumah mewah, dan melunasi seluruh hutang ayahnya kepada Pak Raje.

Sejak itu, tersiarlah kabar bahwa si Penyumpit telah menjadi kaya-raya. Berita itu juga didengar oleh Pak Raje. Ia pun berniat untuk mengikuti jejak si Penyumpit. Suatu hari, Pak Raje meminjam sumpit pemuda itu dan kemudian pergi berburu babi hutan di ladang miliknya. Dalam perburuannya, ia berhasil menyumpit seekor babi. Setelah itu ia mengikuti jejak dan menemukan babi hutan itu, yang ternyata penjelmaan sang putri. Pak Raje berusaha menyembuhkan luka yang diderita oleh sang Putri, namun tidak berhasil karena ia tidak memiliki keahlian mengobati penyakit. Akhirnya, ia diserang berpuluh-puluh babi hutan. Dengan tubuh yang penuh luka-luka, ia berjalan sempoyongan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Pak Raje langsung tergeletak tidak sadarkan diri, karena tidak tahan lagi menahan rasa sakit.

Putri sulung Pak Raje segera menyampaikan nasib malang yang menimpa ayahnya itu kepada si Penyumpit. Mendengar kabar itu, si Penyumpit segera ke rumah Pak Raje untuk menolongnya. Si Penyumpit kemudian mengobati Pak Raje dengan 7 helai daun. Setelah itu ia membakar kemenyan, lalu menyebut satu per satu anggota tubuh Pak Raje, seperti tangan, kaki, kepala, dan lain-lain. Terakhir, ia menyebut nama Pak Raje. Ketika asap kemenyan itu mengepul, di Penyumpit kemudian membaca mantera. Tak lama kemudian, tampak jari tangan Pak Raje bergerak-gerak. Dengan pelan-pelan ia mengusap-usap matanya hingga tiga kali. Akhirnya, Pak Raje sadarkan diri dan sembuh dari penyakitnya.

Setelah itu Pak Raje insaf (sadar) dan mengakui semua kesalahannya kepada si Penyumpit.

“Terima kasih, Penyumpit! Kamu telah menyembuhkan penyakitku. Aku minta maaf karena telah memaksamu menjaga ladangku. Untuk menebus kesalahanku ini, aku akan menikahkanmu dengan putri bungsuku. Setelah itu, aku akan mengangkatmu menjadi Kepala Desa untuk menggantikanku. Bersediakah kamu menerima tawaranku ini, wahai Penyumpit?” tanya Pak Raje.

“Terima kasih, Pak Raje! Dengan senang hati, saya bersedia,” jawab si Penyumpit.
“Baiklah kalau begitu. Berita gembira ini akan segera aku sampaikan kepada seluruh warga kampung ini,” kata Pak Raje.

Satu minggu kemudian, pernikahan si Penyumpit dengan putri bungsu Pak Raje dilangsungkan dengan meriah. Berbagai macam seni pertunjukan ditampilkan dalam acara tersebut. Pak Raje bersama keluarganya beserta seluruh warga desa turut bergembira atas pernikahan itu. Di akhir acara, Pak Raje menyerahkan jabatannya sebagai Kepala Desa kepada menantunya yang baik hati itu. Sepasang insan yang baru menjadi suami-istri itu hidup berbahagia. Warganya pun hidup tentram dan damai di bawah perintah Kepala Desa yang baru, si Penyumpit.

Demikian cerita rakyat Si Penyumpit dari Pulau Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung. Cerita di atas mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat suka menolong dan pandai membalas budi.

Pertama, sifat suka menolong. Sifat ini tercermin pada perilaku si Penyumpit yang telah menyembuhkan penyakit sang Putri dan Pak Raje. Sifat ini termasuk sifat yang terpuji dan sangat diutamakan dalam kehidupan orang Melayu, sebagaimana dikatakan dalam untaian syair berikut ini:

wahai ananda dengarlah manat,

tulus dan ikhlas jadikan azimat

berkorban menolong sesama umat

semoga hidupmu beroleh rahmat

Kedua, sifat pandai berbalas budi. Sifat ini tercermin pada sikap ibu sang Putri yang telah memberikan hadiah kepada si Penyumpit berupa perhiasan emas, intan dan berlian, karena telah menyembuhkan penyakit putrinya. Demikian pula, Pak Raje yang telah menikahkan putri bungsunya dengan si Penyumpit, karena telah menyembuhkan penyakitnya. Sifat ini termasuk sifat yang terpuji dan sangat diutamakan dalam kehidupan orang Melayu, sebagaimana dikatakan dalam ungkapan berikut ini:

apa tanda melayu pilihan, membalas budi ia utamakan


The Raid




The Raid

          Kabar seru datang dari film Indonesia untuk genre action atau laga. Festival Film bergengsi Toronto Film Festival menyematkan pangkat The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award pada film yang dibintangi Iko Uwais, Donny Alamsyah, dan Ray Sahetapy.
          Kabar ini tentu saja merupakan kebanggaan kesekian kalinya dari jagad sinema tanah air yang berhasil menembus medan perang internasional melawan hegemoni film action ala Holywood atau Hongkong. Gilanya lagi, film ini ternyata hak edarnya telah dibeli oleh Sony untuk di distribusikan di pasar Amerika. Sutradara Gareth Evans yang pernah menggarap film MERANTAU di tahun 2009 ini sepertinya memang tidak tanggung-tanggung dalam memproduksi karya-karyanya. Lewat kepanjangan tangan Sony pula, MIKE SHINODA LINKIN PARK ikut turun tangan mengerjakan music scoring yang mengetarkan.
         THE RAID bertutur tentang aksi sejumlah anggota Polisi (SWAT) yang terjebak di sebuah apartemen yang dijadikan markas besar para bajingan lintas kriminal yang tak tersentuh hukum dan di pimpin oleh Big Boss bernama Tama (Ray Sahetapy).

         Mulanya segala apa yang direncanakan berjalan sesuai siasat, namun ketika penyerbuan mereka terlihat anggota gerombolan Tama, maka mulailah perjuangan hidup dan mati mereka menyelesaikan misi dengan segala daya upaya mengingat mereka berada
di sebuah tempat yang tak bisa dianggap main-main.

        Untuk membuat seluruh adegan action mencapai titik realistis, Gareth rupanya mengadakan training bootcamp. " Saya rasa persiapan seperti ini sangat penting karena dapat memberi kesempatan untuk merasakan pengalaman yang seasli mungkin dengan apa yang terjadi apabila mereka tim SWAT beneran " tulis Gareth dalam catatan behind the
Scenenya diblog tertanggal 3 Februari 2011.

       
Dalam bootcamp tersebut, Komando Pasukan Khusus TNI Laut, Kopaska, menjadi instruktur latih dan menempa para pemain inti selama 5 hari secara intensif menggunakan standar pasukan spesialis. Dalam catatan tersebut, Gareth juga blak-blakan mengaku bahwa dirinya terinspirasi oleh film Chow Yun Fat yang berjudul "Peace Hotel" tahun 1995. Gareth berkhayal apa jadinya jika hotel dalam film tersebut sesungguhnya merupakan sarang penjahat kelas berat yang teretak di tempat terpencil dan sulit terjangkau. Khayalan itu akhirnya terwujud belasan tahun kemudian lewat film The Raid - Serbuan Maut ini

The Raid, di Amerika Hasilkan Rp 2 Miliar, di Sini Sudah Ditonton Lebih 180 Ribu Orang!




THE Raid terus membuat prestasi baik di tanah air maupun di luar negeri.
       Sejak diputar serentak, Jumat (23/3) di Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada, film aksi garapan Gareth Evans ini terus menyita perhatian.

       Kritikus AS menyukai film yang di negeri Paman Sam itu beredar dengan judul The Raid: Redemption itu. Situs RottenTomotoes yang mengumpulkan berbagai ulasan kritikus film AS memberi skor fresh 86 persen (yang berarti 86 persen dari ulasan The Raid bernada positif).

      Di jagat box office AS, The Raid juga lumayan berbicara. Meski di deretan box office pekan ini, seperti dikutip dari Box Office Mojo, Senin (24/3), The Raid hanya mampu berada di urutan 24, itu semata karena The Raid “hanya” tayang di 14 teater di 5 kota (Washington DC, New York, Los Angeles, San Fransisco, dan Chicago).

      Namun, dari 14 teater yang memutar, The Raid mampu mengumpulkan AS$ 221 ribu atau setara Rp 2 miliar.

     Sementara itu, dari data yang dirilis produser The Raid, PT Merantau Films, filmnya di tanah air sudah ditonton lebih dari 180 ribu.  Di hari pertama film The Raid diputar, jumlah penonton 57.764, di hari kedua 62.930, dan hari ketiga 64.118. Dengan demikian The Raid sudah ditonton 184.812 orang.

Synopsis


        Jauh di jantung daerah kumuh Jakarta terletak sebuah apartemen bangunan terlantar tak tertembus yang menjadi rumah aman bagi pembunuh kota yang paling berbahaya, pembunuh dan gangster. Blok apartemen kumuh telah dianggap tak tersentuh bahkan polisi. Semuanya berubah ketika tim elit bertugas menyerang bangunan agar untuk mencatat kejahatan terkenal tuan Tama Riyandi yang menjalankannya.

       Berjubah bawah penutup pra-fajar kegelapan dan keheningan, rookie petugas Rama dan seorang pria 20 tim SWAT, yang dipimpin oleh Sersan Jaka, tiba di blok apartemen di bawah bimbingan Letnan Wahyu. Mulai dari lantai dasar dan bergerak naik, mereka perlahan-lahan dan bijaksana menyusup ke blok apartemen sampai mereka mencapai lantai enam. Tim ini ditemukan oleh seorang anak dan lari untuk memperingatkan Tama.

       Tama mendengar kehadiran dan mengumumkan ke seluruh blok bahwa ia akan memberikan perlindungan kepada mereka yang membunuh tim SWAT. Sersan Jaka segera belajar bahwa misi itu tidak disetujui oleh departemen, tetapi hanya oleh Letnan Wahyu, sehingga tidak ada bala bantuan atau pertolongan.
Setelah pertempuran panjang tim ini terdampar di lantai 6 di mana mereka; kalah jumlah, dari amunisi dan sedang diburu. Para anggota yang selamat dari serangan adalah: Sersan Jaka, Letnan Wahyu, Bowo, Dagu dan Rama. Setelah nyaris melarikan diri ledakan, tim dibagi menjadi dua kelompok: Jaka dengan Wahyu dan Dagu di lantai 5 dan Rama dengan Bowo menemukan keselamatan di lantai 7.
       Setelah Rama bertahan serangan oleh sekelompok parang, ia ditangkap oleh Andi, tangan kanan Tama itu. Pada saat yang sama, Jaka dan kelompoknya ditemukan oleh Mad Dog, antek kejam Tama itu. Wahyu dan Dagu lolos sebagai perkelahian Mad Dog dan akhirnya membunuh Jaka. Andi diturunkan menjadi saudara Rama terasing yang memilih untuk meninggalkan keluarga dan tidak meninggalkan jejak keberadaannya. Andi memungkinkan Rama tahu kapan itu akan aman saat ia bertemu dengan Mad Dog. Tama belajar dari pengkhianatan dan memungkinkan Mad Dog merawat Andi.

       
Rama regroups dengan Wahyu dan Dagu dan penyerangan lantai 15 di mana Tama berada. Rama membebaskan Andi dari Mad Dog saat mereka terlibat dalam perkelahian brutal. Wahyu dan Dagu pendekatan Tama tetapi Wahyu membunuh Dagu meninggalkan kedua orang mendiskusikan posisi mereka di dunia kriminal. Rama dan Andi mendekati keduanya, dan ia mengungkapkan bahwa Tama seharusnya membunuh Wahyu sementara Wahyu ingin melakukan hal yang sama Tama. Wahyu Tama membunuh dan mencoba bunuh diri tapi gagal. Andi panggilan off serangan dan membantu Rama, Bowo dan Wahyu ditangkap dari blok.
Para Pelaku
*  Iko Uwais sebagai Rama, pemeran utama dan anggota tim SWAT rookie serangan yang    
    memiliki agenda tersembunyi.
*  Donny Alamsyah sebagai Andi, tangan kanan Tama itu manusia dan otak bisnis   
    narkotika Tama itu.
*  Ray Sahetapy sebagai Tama Riyadi, druglord kejam dan licik yang bertanggung jawab
   dari target bangunan kriminal-tempat kudus apartement, utama operasi serangan SWAT,      
   dan antagonis utama.
* Yayan Ruhian sebagai "Mad Dog", Tama itu hitman brutal dan tangan kanan dengan
   keterampilan pertempuran yang mematikan.
   Pierre Gruno sebagai Letnan Wahyu, petugas polisi senior yang memerintahkan serangan
   naas.
* Joe Taslim sebagai Sersan Jaka, ketua tim operasi serangan naas SWAT.
* Tegar Satrya sebagai Bowo, anggota temperamental dari tim SWAT rookie serangan.
* Eka "Piranha" Rahmadia sebagai Dagu, anggota tim SWAT rookie serangan.
* Verdi Solaiman sebagai Budi, anggota tim SWAT rookie serangan.
* Ananda George sebagai Ari, anggota tim SWAT rookie serangan.
Produksi
         Areth Evans telah terpesona dengan seni bela diri Silat Indonesia dan sebagai pembuat film yang ingin mempromosikan seni yang kurang dikenal untuk audiens internasional melalui film-filmnya. Setelah Merantau, Evans dan produsen nya bekerja pada proyek lain film silat disebut Berandal (eng: nakal / preman), sebuah penjara skala besar geng film dimaksudkan untuk membintangi tidak hanya Merantau Iko Uwais bintang dan Yayan Ruhian tetapi juga sepasang tambahan dari perang internasional bintang.
       Tapi proyek ini terbukti mengkonsumsi sedikit lebih kompleks dan waktu daripada yang diantisipasi Setelah setengah tahun mereka tidak dapat menemukan cukup uang untuk memulainya.. Mereka kemudian memutuskan untuk mencari ide baru dan membuat film yang berbeda dengan semua uang yang telah mereka miliki. Daripada mencoba untuk menembak
      Berandal dengan anggaran terbatas dan kehilangan ruang lingkup dan ukuran yang mereka inginkan dari itu, mereka akan mengubah fokus dan menceritakan cerita yang berbeda sama sekali, mereka bisa membuat satu tanpa mengorbankan kualitas dan menjaga investor senang. Dengan demikian sebuah proyek baru yang disebut Serbuan Maut (The Raid) dikandung, dengan anggaran yang jauh lebih rendah dan cerita sederhana dari Berandal.
skor

       Sementara film ini masih dalam produksi, pada bulan Mei 2011, Sony Pictures Seluruh Dunia Akuisisi memperoleh hak distribusi film bagi AS dan bertugas Mike Shinoda dari Linkin Park dan Trapanese Yusuf untuk menciptakan skor baru untuk pasar AS.

Film ini ditayangkan skrining internasionalnya pada TIFF 2011 Toronto dengan skor asli dari versi bahasa Indonesia yang disusun oleh Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal, yang juga composied film sebelumnya Evan, Merantau. Raid memulai debutnya di AS dengan versi Trapanese dan Shinoda di Sundance 2012
Soundtrack

        Dalam blog-nya, Mike Shinoda menyatakan bahwa film ini terdiri dari lebih dari 50 menit skor instrumental dan ia menemukan ruang di akhir untuk dua lagu dengan vokal.
Dia tidak ingin melakukan atau bernyanyi rap dan memutuskan untuk memanggil beberapa teman.
        Pada tanggal 16 Maret 2012, sebuah lagu baru untuk film ini telah bocor secara online. Jalur bocor ini berjudul "Out Pisau cukur" dan fitur giliran tamu dari Deftones / vokalis † † † Chino Moreno Lagu lainnya adalah dengan GBC berjudul "Musik bunuh diri" juga tersedia.
Resepsi
        Tinjauan awal untuk The Raid: Penebusan telah sangat positif. Berdasarkan 56 ulasan dikumpulkan oleh Rotten Tomatoes, film ini saat ini memegang peringkat segar 86%, dan skor rata-rata 7.6/10. Website ini melaporkan konsensus kritis sebagai "No frills dan sensasi semua," dan memuji film sebagai "film action inventif ahli mondar-mandir dan diedit untuk hiburan yang maksimal." Sebaliknya, Roger Ebert memberikan film bintang tunggal dari empat, mencatat bahwa direktur "Welsh, Gareth Evans, tahu ada penonton fanboy untuk formula, di mana efek khusus amp sampai kekacauan di IMDB carnageIn tidak masuk akal, film ini memiliki 7 tempat di "film action yang paling populer fitur" dengan 8,4 peringkat.

Awards
• idnight Madness Penghargaan pada TIFF 2011
•
Dublin Film Kritikus Film Lingkaran Terbaik dan Audience Award di Jameson Dublin   
  International Film Festival (JDIFF) 2012


DISKRIMINASI


1. Pengertian Diskriminasi

      Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap  
      sesame warga Negara berdasarkan pada warna kulit, golongan, suku, agama, dan sebagainya.

      Menurut ahli Fikih, diskriminasi adalah pembedaan perlakuan antara si kaya dan si miskin.

Dalam kehidupan di masyarakat sifat diskiminasi banyak dijumpai.

      Misalnya, jika didatangi orang yang berpangkat/pejabat dari kaya raya mereka sangat hormat bahkan sangat berlebihan dalam perjamuan dan penghormatan. Tetapi sebaliknya jika yang datang orang miskin dan tidak punya apa-apa mereka terkadang acuh tak acuh bahkan menghina dan mengusirnya.

      Dan juga hampir di setiap segmen masyarakat kita perbedaan yang sangat mencolok sekali adalah perbedaan jenis kelamin, yang selalu mengedepankan laki-laki tanpa memperdulikan wanita. Pada hal kita ketahui bahwa islam datang untuk mengangkat harkat dan derajat wanita walaupun lelaki tetap sebagai kepala rumah tangga dan sebagai
Iman di dalam keluarga.

     Sikap yang demikan seperti tertera di atas sangat dibenci oleh Allah swt. Dihadapan Allah swt. Yang dinilai bukan kekayaan, jabatan, kecantikan atau kekuatan tetapi takwa
Seseorang.

     Dalam islam perbuatan demikian sangat dicela karena perbuatan ini mengakibatkan kerugian, perpecahan, dan ketidakmakmuran. Islam justru mengajurkan pada setiap pemeluknya untuk bersikap adil tanpa pandang bulu karena semuanya adalah hamba Allah swt. Terdapat dalam firman Allah swt Q S.AL Maidah [5].8)

2. Bahaya Diskriminasi

     Diskriminasi dapat menimbulkan dampak buruk dalam kehidupan, antara lain :
     a. Menimbulkan perpecahan dan renggangnya persatuan umat

    b. Timbulnya kesenjangan, sosial yang semakin tajam baik dalam kehidupan  
        bermasyarakat berbangsa, maupun bernegara.

    c. Tidak adanya ketenteraman dan kedamaian

   d. Timbulnya kebencian di antara orang yang diberlakukan tidak adil sesuai dengan    
       haknya.