Kembang api


Sabtu, 17 Agustus 2019

SEMBAHYANG REBUT (Chit Ngiat Pan) DI BELITUNG





Sembahyang Rebut



Sembahyang Rebut (Chit Ngiat Pan) Belitung - Ritual Persembahan Untuk Para Arwah yang



Bergentayangan



Bagi warga Keturunan Tionghoa di Bangka Belitung, peristiwa itu diyakini terjadi tiap hari



ke-15 bulan 7 penanggalan Imlek.



Patung Thai Se Ja yang berukuran besar dibakar sebagai penutup ritual sembahyang rebut.

Rabu, 14 Agustus 2019

PAWAI TANGLONG 2019 BELITUNG





PAWAI TANGLONG 2019 BELITUNG



siswa siswi tingkat SD, SMP, dan SMA se Kabupaten Belitung yang mengikuti Pawai Tanglong atau Pawai Lentera.

Untuk memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 Tahun.

Sekitar 1500 siswa siswi termasuk drum band sekaligus merayakan ulang tahun Pramuka ke 58.



Berbagai kreatifitas lentera di bawa berkeliling Start dimulai dari Lapangan Bola Keramik,Jalan Ayani,Jalan Diponegoro,jalan Sriwijaya,jalan Merdeka dan Finish di Gedung Nasional Belitung.


Senin, 12 Agustus 2019

PAWAI TAKBIRAN IDUL ADHA 1440 H (DI BELITUNG 2019)





Pawai Takbiran Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah di Belitung (2019)





Meski tak seramai Pawai Takbiran Idul Fitri namun setidaknya

Puluhan mobil mulai berdatangan memadati halaman Gedung Nasional, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Sabtu 10 Agustus 2019



Berbagai kendaraan dengan segala Ke Khasanya turut meyemarakan Malam Takbiran Hari Raya

Idul Adha 1440 hijriah. Konvoi tersebut akan mengitari kota tanjungpandan .

Rabu, 07 Agustus 2019

LADA PUTIH BELITUNG





Hallo Sahabat dan Saudaraku semua,   bersama saya kali ini berbagi informasi seputaran Lada Putih yang ada di Pulau Belitung

 Kiranya haraf di maklumi seandainya ada kekurangan atau terlalu berlebihan dalam penyampaian..untuk sekedar kita berbagi.



Lada Putih



Indonesia yang kaya akan rempah-rempah memang sudah diakui banyak negara di dunia sehingga pada zaman era sebelum kemerdekaan banyak penjajah asing yang masuk untuk menguasai kekayaan alam yang dimiliki negara ini.



Begitu banyaknya rempah-rempah yang biasanya dimanfaatkan untuk bumbu masakan seperti cabai, kunyit, jahe, lengkuas, lada, kemiri dan sebagainya.



Provinsi Bangka Belitung sebagai penghasil timah juga merupakan penghasil lada dengan kualitas terbaik di Indonesia. Memiliki keunggulan pada aroma dan rasa pedas yang khas, bahkan menjadi primadona dan andalan ekspor Indonesia di mancanegara.



Yang membedakan lada putih dan lada hitam adalah proses pasca panen. Lada hitam biasanya dipetik sebelum buahnya benar-benar matang yang kemudian dikeringkan. Sementara itu, lada putih diperoleh dari lada yang dipetik ketika sudah matang dan melalui proses pencucian dan perendaman untuk melepaskan tangkai dan mengupas kulit luar sebelum dijemur dibawah panas matahari. Biasanya lada direndam di sungai-sungai yang airnya bersih dan mengalir untuk menjaga mutu.



Di perkampungan lada, apabila sedang musim panen, biasanya halaman rumah-rumah petani akan dipenuhi tikar-tikar yang diatasnya diletakkan butiran lada yang telah selesai direndam. Saat itu, perkampungan tersebut akan dipenuhi aroma khas lada yang sangat menyengat sisa proses perendaman. Tentu saja bau menyengat itu tidak seberapa dibandingkan bau lada yang sedang direndam.



Lada putih akan siap dijual atau digunakan setelah proses penjemuran selesai. Untuk mengetahui pakah lada telah kering dengan baik dapat diketahui dengan cara menggigitnya saja. Jika digigit biji lada kering terbelah dua atau lebih, maka lada itu telah telah kering dan siap dijual atau digunakan.

Rabu, 31 Juli 2019

NYUNGKOR UDANG BELITUNG





Nyungkor (Nyungkur) Udang



Nyungkur atau Nyungkor adalah pelafalan dalam Bahasa Melayu Belitong (Pulau Belitung) yang merupakan aktivitas masyarakat setempat dalam mencari/ menangkap udang secara tradisional sekali sebagai salah satu tambahan penghasilan atau tidak sedikit juga masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari kegiatan Nyungkor Udang ini.





Aktivitas Nyungkor ini dilakukan biasanya dilakukan masyarakat disekitaran pantai. Pada subjek yang di ceritakan disini adalah berlokasi di Pantai Gunong Tiong, Desa Pegantungan, Belitung Barat, sebagai salah satu potret sebagian masyarakat Belitung Barat khususnya dan Pulau Belitong pada umumnya.





Aktivitasnya bernama Nyungkor, sedangkan alat tangkap udangnya bernama Sungkor (Sungkur). Biasanya terbuat dari bahan dua batang bambu atau kayu yang relativ ringan dengan panjang sekitar dua hingga tiga meteran, bahkan tidak jarang ada yang memakai sungkor dengan kepanjangan bambunya sekitar empat meter lebih.



Pada salah satu ujungnya dipasang pasak kayu sebagai pengunci, dan dipasang jaring sehingga membentuk segitiga. Di ujung tempat dimana pasak kayu berada sebagai perpanjangan jaring dibuatlah tempat untuk menampung udang hasil tangkapan yang bernama “Perut Sungkor”. Sedangkan dua ujung bambu/ atau kayu tempat dimana menyentuh dasar laut dipasang sabut kelapa, atau dari pipa paralon sehingga gesekan dengan pasir dasar laut terasa “licin” dan “mulus”.



Teknik penangkapan udangnya adalah dengan mendorong sungkur ke dasar laut, dimana kedalaman laut pada pelaksanaan aktivitas tersebut sekitar batas perut orang dewasa atau kurang dari itu.


Minggu, 28 Juli 2019

TRADISI MARAS TAUN BELITUNG





Maras Taun



Rio campo irau degau urang de bebak

Kecik gede tua mudak gering becande

Kalok sidak endak tau cube ngenjungak

Gawai gede maras taun seluro dise



Maras taun adat barik urang Belitong

Tande sukor dapat padi baru deketam

Khatib lebai dukun kampong berapit ketong

Mace due ngidang tangan bebetak malam



Lepat pulut emping beras arus berete

Idang tambul ngisik dagak kedengan kupi

Kaluk renyek usa supan ngambik belebe

Ngisik kantong idang sangu melampun pagi





Lesong panjang rudat tiong beripat rutan

Seni barik urang tua ramai detunton

Tamba ramai suasane di Maras Taun

Sampai pagi baru uda balik berembun....  2x

Sabtu, 27 Juli 2019

TARI SELAMAT DATANG BELITUNG (BELITUNG TRADITIONAL DANCE}





Tari sekapur sirih adalah salah satu tarian selamat datang yang berasal dari Belitung. Dalam tarian ini, penari membawa sebuah wadah yang berisi sirih sebagai tanda kehormatan kepada para tamu penting yang datang di satu acara perhelatan besar yang sedang digelar masyarakat Belitung.



Gerakan-gerakan lincah penari yang bergerak ke kanan dan kiri diiringi musik tradisional gambus khas Belitung membuat tarian ini begitu rancak. Gerakan penari seakan-akan memberikan isyarat selamat datang kepada para tamu.



Dalam salah satu gerakannya para penari ini menerbakan bunga-bunga sebagai tanda penolak bala. Selain itu, para penari juga mendekati para tamu kehormatan yang duduk di barisan terdepan dan memberikan sirih yang tersimpan dalam sebuah kotak sebagai tanda kehormatan dan persahabatan kepada para tamu yang datang.



Tari sekapur sirih biasa ditarikan 10 sampai 12 penari. Diantara para penari ini biasanya terdapat dua penari laki-laki yang berposisi di belakang. Tari sekapur sirih menjadi tarian yang ditampilkan dalam perhelatan besar di Belitung. Sebagai tarian selamat datang, biasanya tari sekapur sirih ini mendapatkan perhatian dan sambutan meriah dari para tamu undangan yang hadir.